Sabtu, 04 Juli 2009

tahu lebih banyak tentang hornline donk !!!

Pagi yang indah, matahari bersinar terang, ayam bekokok di temani dengan segelas kopi hangat menambah indahnya pagi. Tapi, tanpa membaca artikel tentang hornline rasanya bagai JK tanpa WIRANTO.Tanpa panjang kali lebar kali ini saya akan bahas tentang apa saja sich bagian-bagian hornline itu ? karena alat musik tiup yang akan di bahas adalah macam macam trumpet dari logam, jadi kita sebut saja brasswind.Julukan ini berlaku untuk seluruh rakyat trumpet seperti Cornet, Corno, French Horn, Flugle, mellow, Baritone, Trombone, Tuba dsb.


Ukuran Brasswind bermacam-macam, mulai dari yang berukuran kecil hingga yang berukuran ekstra besar..tergantung dari perwakilan nadanya masing-masing, mulai dari sopran, alto, tenor, bass, hingga contra bass. Awalnya, bentuk mereka panjang, agar lebih ringkas makanya digulung sedemikian rupa sehingga flexibel untuk di pegang maupun di mainkan.Ada yang di pegang saja, ada yang digendong seperti lagunya mbah Surip, sampai yang gulung di badan.

1.TRUMPET


Trumpet, bunyinya keras! Satu trumpet mampu berteriak sekuat tenaga 6 watt sehingga pantas kalau trumpet kemudian dipilih untuk mengisi formasi musik lapangan seperti marching band itu. Satu saja sudah vokal, apalagi kalau krubutan. Rame dah! Gaya memainkannya aneka macam, ada yang dipeluk, dikalungkan, atau cukup ditenteng saja.

MENARIK DAN MENGESANKAN

Kita pasti penasaran melihat alat pengatur nada trumpet yang hanya berupa 3 buah piston. Meskipun berpiranti sederhana namun trumpet mampu menjelajah semua nada, lengkap hingga ke nada-nada kromatik. Menarik!

Dan lagi, meskipun berbeda ukuran, berbeda bentuk dan berbeda latar belakang, namun semua brasswind dibunyikan dengan cara yang sama yaitu dengan cara ditiup mouthpiecenya. Dan tanpa janjian, mouthpiece atau piranti bantu sumber bunyi masing-masing mereka memiliki desain yang nyaris serupa.

Piranti pengatur nada trumpet biasa kita sebut piston. Jumlah piston cuma 3 namun alat musik itu mampu menyuarakan banyak nada, do-di-re-ri-mi-fa-fi-sol dst. lengkap hingga mencapai lebih dari 2 ½ oktaf.

Sistim piston yang dikembangkan untuk pertama kalinya di Jerman oleh Heinrich Stolzel pada 1814 dulunya berupa tabung atau selongsong mirip spet suntikan. Di dalam tabung terdapat piston beserta kelengkapannya seperti gagang piston dan per. Adanya per membuat piston dapat ditekan dan kembali membal.

Beberapa lubang seperti liang terdapat di bodi piston. Liang-liang ini berfungsi menyalurkan udara ke jalur nada yang dituju. Perubahan posisi piston, naik atau turun akan membuka atau menutup lubang saluran dan mengubah arah aliran serta jarak tempuh udara di dalam tabung. Makin panjang jarak, nada makin merendah.

Penemuan piston ini sangat penting. Dengan piston kita tidak perlu lagi repot-repot menggonti-ganti sulur bodi, menambah atau mengurangi panjangnya guna mendapatkan suara yang pas. Cukup dengan mencet-mencet tombol piston saja dan…, semuapun beres. Piston sebagai pengatur nada ini dapat diaplikasikan ke semua jenis alat musik brasswind, baik yang berukuran kecil, sedang maupun besar. Pengembangan sistim piston dilakukan kemudian oleh Perinet dari Berlin pada 1838.

CARA NADA DIHASILKAN

Cara kerja piston cukup simple. Posisi piston tanpa ditekan disebut posisi open. Kode angka 1 merujuk pada aksi menekan piston pertama, menggunakan jari telujuk tangan kanan, disebut posisi 1. Angka 2 adalah piston ke dua, ditekan dengan jari tengah, disebut posisi 2. Angka 3 untuk piston ke tiga ditekan dengan jari manis disebut posisi 3. Nomor urut piston dihitung mulai dari piston pertama yang berada paling dekat mouthpiece, piston kedua berada ditengah dan piston ke tiga berada dekat ke corong.

Posisi open, tanpa menekan, akan menghasilkan nada-nada harmoni C /G/c/e/g/bes dan c. atau DO – SOL – do – mi – sol – li – do. (Nada oktaf dicapai dengan bantuan formasi bibir atau embouchure yang mengetat ketika meniup mouthpiece).

Posisi 2, yaitu aksi menekan piston ke 2 akan membawa nada-nada open turun ½ step, nada. C menjadi B atau Do menjadi Si. Nada G turun setengah menjadi Fis atau Sol menjadi Fi dan seterusnya.
Posisi 1, yaitu menekan piston ke 1 akan membuat nada open turun sebanyak 1 step. Nada C menjadi Bes atau Do menjadi Li. Nada G turun satu menjadi F atau Sol menjadi Fa dst.

Posisi 1 dan 2 bersamaan, yaitu dengan menekan piston ke 1 dan ke 2 secara bersamaan akan menurunkan nada open sebanyak 1 ½ step. Nada C menjadi A atau Do menjadi La. Nada G menjadi E atau Sol menjadi Mi dst.
Posisi 2 dan 3 bersamaan akan menurunkan nada open sebanyak 2 step. Nada C menjadi Gis atau Do menjadi Sel. Nada G menjadi Dis atau Es atau Sol menjadi Ri dst.

Posisi 1 dan 3 bersamaan akan menurunnkan nada open sebanyak 2 ½ step.. Nada C menjadi G atau Do menjadi Sol dan Nada G menjadi D atau Sol menjadi Re dst.

Posisi 1, 2 dan 3 bersamaan akan menurunkan nada open sebanyak 3 step. Nada C menjadi Fis atau Do menjadi Fi dan nada G menjadi Cis atau Sol menjadi Di dst.

Model lain dari piranti pengatur nada adalah berupa slide yang operasinya dengan cara ditarik serta diulur. Uluran slide akan menambah ukuran panjang tabung, dan sebaliknya ketika slide ditarik, tabung akan memendek. Penambahan panjang bodi atau tabung dalam skala tertentu akan menurunkan nada sebanyak step tertentu pula.

Nada bisa diatur sesuai kemauan, tapi tentu dengan syarat harus ada bunyi. Sumber bunyi trumpet berasal dari mouthpiece. Mouthpiece ini bisa terbuat dari kayu, tulang, gading, perunggu, perak, emas, kuningan ataupun tembaga dll. Bentuknya seperti corong kecil, nyaris seperti model stetoskop pak dokter.

Cara membunyikannya dengan dibekapkan di bibir lalu ditiup. Variasi nada, tinggi-rendahnya, didapat dengan cara mengatur formasi bibir, merapat atau membiarkan tetap ndomble. Meski dapat saja mouthpiece itu menyuarakan beberapa nada, sesuai dengan posisi atau keketatan bibir kala meniup, tapi nada-nada yang dihasilkan belum memadai, belum cukup lengkap. Makanya mouthpiece perlu dibantu oleh piranti piston ataupun slide agar dapat bernada sempurna.

Meniup mouthpiece perkaranya hampir mirip dengan cara kita bersiul. Hanya saja ketika kita meniup trumpet, jangan lupa mouthpiecenya dipasang. Nah, dibalik mouthpiece itu, silahkan bibir sebal-sebul. Awalnya memang tidak gampang. Tapi setelah biasa, meniup trumpet bakal enak saja, tak perlu ngotot ataupun ngeden, tak perlu khawatir turun berok. Kagak ngaruh!



2.SAXSHOPONE



Berbeda dengan tuts piano yang dapat menjangkau banyak nada, mulai dari do paling rendah hingga do paling tinggi alias beroktaf-oktaf, saxophone hanya mampu menjelajah beberapa oktaf. Makanya, ia pun dibuat dalam berbagai ukuran demi menghasilkan nada selengkap piano. Jadilah saxophone ukuran S, M, L, XL, double X, dan bahkan triple X. Pokoknya mirip ukuran baju. Namun, pembagiannya bukan seperti itu, lebih merujuk ke jenis suara.

Wilayah nada tinggi diwakili saxophone mini, sedangkan untuk nada rendah menjadi urusan saxophone berukuran panjang dan besar. Total semua macam saxophone ada 14. Semuanya, kalau mau, dapat dimainkan bersama, ada yang kebagian suara sopran, alto, tenor, bariton, bas, maupun kontra bas.

Dari 14 macam itu, yang sering santer disebut adalah saxophone sopran, alto, dan tenor. Yang sopran bentuknya lurus seperti yang dipakai Kenny G. Sedangkan golongan alto bentuknya sedikit melengkung seperti huruf "J". Jenis ini biasa ditiup oleh Dave Koz. Di atas alto ada saxophone tenor, dan biasa disebut saxophone jazz. Yang lebih besar lagi, saxophone bariton. Saking berat dan besarnya, bagian bow atau bell-nya jadi sering rusak.

Sebelum kebingungan dengan istilah di seputar saxophone, ada baiknya kita telanjangi dulu "bodi" saxophone yang seksi itu. Bentuknya mengerucut mirip belalai gajah. Ukurannya mulai dari 1,5 m sampai lebih dari 5 m. Berhubung besar dan panjang, supaya enak dipakai dan tidak kedodoran, maka perlu diringkas. Bagian ujung dan pangkalnya ditekuk sehingga hasilnya mirip cangklong, pipa untuk merokok.

Di sekujur tubuhnya banyak "bopeng". Lho, tidak seksi lagi dong? Ya, mau apalagi, sebab tanpa "bopeng-bopeng" itu saxophone tidak bisa bunyi. "Bopeng" yang berupa lubang menganga itu dipasangi tutup yang bisa dibuka-tutup. Tutup-tutup lubang itu ada yang dirangkai sehingga dapat menutup bersamaan.

Anatomi saxophone dapat disebut mulai dari atas: mouthpiece yang diemut sewaktu memainkannya, neck tempat memasang mouthpiece, main body tempat lubang-lubang tadi berada, bow yang berbentuk mirip huruf "U", dan bell yang mirip tabung dengan ujung kayak corong. Pada main body sebelum bow ada kait terbuat dari metal atau plastik tempat ngasonya jempol sehingga diberi nama thumbrest. Beberapa senti di atas thumbrest ada strap ring, tempat canthelan strap neck.


Seperti mimi dan mintuna, begitulah mouthpiece dan reed. Saxophone berbunyi hanya jika mouthpiece ditiup. Mouthpiece ini ceper, mirip paruh bebek cerewet, Donal. Bahannya bisa kayu, metal, atau ebonit. Sedang reed terbuat dari bahan rotan yang diiris tipis, ditempelkan di sisi bawah mouthpiece dan diikat kencang dengan ligature. Besar kecil mouthpiece mengikuti ukuran saxophone. Jika kecil, kita bisa meniupnya di sudut bibir sehingga masih dapat bersaxophone sambil nyengir. Kalau saxophone nya gede, mouthpiece-nya bisa segemuk pisang ambon. Ampun deh!

sumber : debritto.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar